Kerisis Adab di Dunia Pendidikan Kita , Oleh Ade Putra Hayat, Dosen IAIN Kerinci

Menu Atas

Kerisis Adab di Dunia Pendidikan Kita , Oleh Ade Putra Hayat, Dosen IAIN Kerinci

Khayangannews
Sabtu, 17 Januari 2026
Bagikan:

Khayangannews, Oleh :  Dosen IAIN Kerinci, Ade Putra Hayat, Kader GP Ansor Jambi,- Menyoroti Peristiwa kekerasan antara guru dan siswa di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, pada 13 Januari 2026, kembali menampar kesadaran kita tentang kondisi dunia pendidikan. Seorang guru dilaporkan menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswa setelah terjadi cekcok di lingkungan sekolah. Peristiwa ini tidak hanya mencederai rasa aman di sekolah, tetapi juga membuka persoalan yang lebih mendasar: krisis adab dalam pendidikan. Jambi, 16/01/26

Kasus ini tidak bisa disederhanakan sebagai persoalan emosi sesaat, baik dari pihak guru maupun siswa. Ia merupakan gejala dari masalah yang lebih dalam, yakni rapuhnya relasi pedagogis antara pendidik dan peserta didik. Sekolah yang semestinya menjadi ruang aman untuk mendidik dan mendewasakan justru berubah menjadi arena konflik, bahkan kekerasan.


Pendidikan Karakter yang Kehilangan Ruh
Selama bertahun-tahun, pendidikan karakter menjadi jargon utama dalam kebijakan pendidikan nasional. Nilai-nilai moral, religius, dan kebangsaan digaungkan dalam berbagai regulasi dan kurikulum. Namun, realitas di lapangan kerap menunjukkan sebaliknya. Pendidikan karakter sering berhenti pada slogan, sementara praktik adab dalam keseharian sekolah semakin menipis.


Sekolah lebih disibukkan dengan target akademik, administrasi, dan kepatuhan prosedural. Pembentukan sikap hormat, empati, dan pengendalian diri kerap dipinggirkan. Akibatnya, relasi guru dan murid menjadi kering secara etis. Ketika konflik muncul, tidak ada mekanisme batiniah yang cukup kuat untuk menahannya agar tidak berubah menjadi kekerasan.


Adab: Fondasi Pendidikan yang Terlupakan
Dalam tradisi pendidikan Islam, adab merupakan fondasi utama ilmu. Ulama klasik seperti Syaikh al-Zarnuji menegaskan bahwa sedikit adab jauh lebih berharga daripada banyak ilmu. Ilmu tanpa adab tidak akan membawa keberkahan, bahkan bisa menjadi sumber kerusakan.


Kekerasan siswa terhadap guru, apa pun alasannya, menunjukkan lunturnya penghormatan terhadap otoritas keilmuan. Guru tidak lagi dipandang sebagai pendidik yang harus dijaga martabatnya, melainkan sebagai pihak yang dapat dilawan secara emosional. Ini merupakan tanda serius hilangnya adab dalam dunia pendidikan kita.


Guru Juga Wajib Beradab
Namun, krisis adab tidak boleh dibebankan hanya kepada siswa. Tradisi pendidikan Islam juga menuntut guru untuk menjunjung tinggi etika dan keteladanan. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa guru adalah teladan akhlak sebelum menjadi pengajar ilmu.


Guru dituntut bersikap sabar, bijaksana, dan penuh kasih dalam mendidik. Kekerasan verbal, apalagi fisik, merupakan kegagalan pedagogis. Jika dalam kasus ini terdapat ucapan atau tindakan guru yang tidak proporsional dan memicu emosi siswa, maka hal tersebut juga patut dievaluasi secara objektif. Wibawa guru tidak lahir dari ancaman atau intimidasi, melainkan dari integritas moral dan keilmuan.


Hilangnya Orientasi Pendidikan
Pemikir Muslim kontemporer Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut problem utama pendidikan modern sebagai loss of adab—hilangnya adab. Ketika adab hilang, pendidikan kehilangan orientasinya. Guru kehilangan otoritas moral, murid kehilangan arah, dan ilmu kehilangan tujuan.


Pendidikan modern terlalu sering direduksi menjadi urusan administratif dan teknokratis. Dimensi etika dan spiritual terpinggirkan. Dalam situasi seperti ini, konflik antara guru dan murid bukanlah anomali, melainkan konsekuensi yang sulit dihindari.


Peran Strategis Pendidikan Agama
Di sekolah, Pendidikan Agama Islam (PAI) seharusnya menjadi jantung pembinaan adab. Namun, PAI sering terjebak pada pendekatan kognitif—sekadar menguji hafalan dan pemahaman konsep—tanpa memastikan nilai-nilai tersebut hidup dalam budaya sekolah.


Kasus ini menjadi refleksi penting bagi para pendidik, khususnya guru PAI, untuk menggeser pendekatan pembelajaran dari sekadar transfer nilai menuju pembentukan karakter relasional yang nyata: dialog yang empatik, pengelolaan konflik, dan keteladanan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.


Kembali ke Ruh Pendidikan
Kasus kekerasan di Jambi hendaknya tidak disikapi secara reaktif dengan sanksi semata, meskipun penegakan hukum tetap penting. Yang lebih mendesak adalah rekonstruksi paradigma pendidikan dengan menempatkan adab sebagai ruh utama.


Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Tanpa adab, ilmu kehilangan makna. Tanpa adab, guru kehilangan kewibawaan. Tanpa adab, murid kehilangan masa depan. Sudah saatnya pendidikan kita kembali pada esensi terdalamnya: membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan beradab.(Kh.26) 

Baca Juga